Sebagai seorang suku batak, mengetahui sejarah Kekristenan ke suku Batak adalah salah satu hal yang cukup penting untuk diketahui. Sebab, ada banyak hal yang menarik di dalam sejarah masuknya Kekristenan ini untuk kamu ketahui, bahkan jika kamu bukan seorang suku batak.
Nah untuk
mengetahuinya, di bawah ini kami sudah merangkum sejarah masuknya Kekristenan
ke suku Batak. Jadi, simak ulasan di bawah ini sampai habis.
Masukan Penginjil ke Tanah Batak
Bagi
masyarakat suku Batak, Ludwig Ingwer Nommensen atau Nomensen adalah salah satu tokoh
penting yang berpengaruh dalam peradaban ke Kristenan. Beliau berhasil
menyebarkan injil di tanah Batak sekaligus cikal bakalnya Huria Kristen Batak
Protestan (HKBP).
Namun
sebenarnya, Nomensen bukanlah orang pertama yang berusaha untuk menyebarkan
injil di dalam tanah Batak.
Pada tahun
1820, 3 orang utusan Pekabaran Injil Baptis Inggris yakni Nathan Ward, Evans
dan Richard Burton dikirim ke Bengkulu untuk menemui Raffels. Raffles kemudian
menyarankan agar mereka pergi ke daerah tempat tinggal suku Batak karena
dinilai masih banyak kafir.
Awalnya seluruh
rencana berjalan lancar, di mana mereka berhasil untuk mengabarkan injil dan
diterima baik oleh penduduk setempat di sekitar daerah Utara.
Sayangnya,
usaha mereka harus terhenti di wilayah Silindung karena terjadinya salah paham
dengan penduduk, yang menafsirkan bahwa kerajaan mereka akan lebih kecil
seperti anak kecil. Hal ini membuat para penginjil akhirnya di usir.
Berlanjut pada
tahun 1834, 2 orang asal Amerika yakni Munson dan Lyman yang merupakan utusan
gereja di Boston pergi ke Sumatera untuk menetap dan mengabarkan injil. Sayangnya,
mereka tidak bisa menyelesaikan misinya karena dibunuh di dekat Lobu Pining
oleh Raja Panggalamei.
Tidak sampai
situ, munculah seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman yakni Franz Wlhel Junghuhn
yang melakukan perjalanan ke daerah suku batak untuk menerbitkan karangannya.
Karangan tersebut
bahkan sampai ke tangan tokoh Lemabga Alkitab Nederlandsche di Belanda yang
membuatnya rela mengrimkan seorah ahli bahasa bernama Neubronner van der Tuuk
untuk meneliti bahasa Batak dan untuk menerjemahkan Alkitab.
Hal ini
membuat Neubronner van der Tuuk menjadi orang barat pertama yang melakukan
penelitian tentang bahasa Batak dan membuatnya bertemu dengan Si Singamangaraja.
Dari sinilah kemudian hadir 2 orang Batak pertama yang dibaptis yakni Jakobus Tampubolon
dan Simon Siregar.
Melanjutkan
hal tersebut, diadakanlah rapat untuk menyerahkan misi penginjilan yan gmenjadi
hari berdirinya HKBP. Kemudian Ludwig Ingwer Nommensen (1834—1918) tiba di
Padang pada tahun 1862 untuk mempelajari bahasa dan adat Batak.
Melalui
badan misi penginjilan tersebut, ia mulai pergi ke daerah Silindung dan
menyampai injil dibantu oleh Raja Pontas Lumban Tobing sebagai raja Batak pertama
yang dibaptis.
Awalnya,
beliau tidak diterima dengan baik di tanah Batak. Bahkan ia hendak dibunuh
karena dinilai menjadi pengaruh buruk. Namun dengan keramahannya, ia
mengucapkan: “Roh yang
berbicara melalui orang itu sudah banyak memperdaya kalian. Itu bukan roh
Siatas Barita, nenekmu, melainkan roh jahat. Masakan nenekmu menuntut darah
salah satu dari keturunanya! Segera Sibaso jatuh ke tanah.”
Atas
perkataannya itu, para dukun dari tanah batak langsung terjatuh dan merasa malu.
Ia pun kemudian mulai diterima hingga akhirnya Kekristenan berhasil menyebar ke
tanah Batak.
Comments
Post a Comment